Teriakan di Korinthus.
"Daedalus, kumohon. Pergilah." lelaki itu mendengar, di gedung yang tak berhuni.
dibawah pohon kemuning,
dari desahan ranting dan rimpunan gugur daun kering
dan seseorang datang membacakan hikayat lama dengan lambat: lembar-lembar usang di kulit sampul itu.
Beberapa tahun sebelum itu, seorang Suriah berdatangan menemuinya
di sepanjang Apollo, meneriakan jiwa lain hilang termakan bulan yang nyaris seperti limau
tapi lelaki itu tak mendengar, ia memilih membayangkan resah Hecatoncheires berlarian mengitari Uranus karena mereka memang menyebutnya seorang pemimpi.
lalu mereka meneriakan hal yang sama,
namun ia tetap bungkam tak berkata
Malam itu angin menegur sapa, bayangan abu-abu itu mengetuk pintu para warga
samar, nyaris tak terlihat, mungkin itu Dewa yang terusir, pikirnya.
Di Korinthus, teriakan itu masih terdengar
nyaring dengan hebatnya.
Di sepanjang jalanan kota timur, bukit Golgotha itu terlihat canggung menunggu ufuk sang fajar
Tertinggal lelaki itu menyimak gema yang bersungut,
tetap diam, menunggu erang kepedihan.
"Apa yang kau dengar dari derap kuda kemarin, —dari sisa hujan ditepi jalan —dari langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakan bima sakti?"
"Tak ada."
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia mencoba mengingat percakapan,
yang terus ia lontarkan pada cermin dibalik batu
dari suatu perjalanan, dari suatu peperangan
yang tak bisa ia menangkan.
Lewat remang kunang-kunang ia coba lupakan
dari seberkas cahaya,
yang mungkin hanya ia yang membayangkan
Kini suara itu tak akan kembali ia dengar, karena ia hanya ingin berbicara pada dirinya sendiri
Ia ingin bercerita dengan deru angin,
dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang ia petik di tengah hamparan ilalang,
dengan pekat awan yang terus menendangkan lagu kenangan,
dengan malam.
Berdiri di antara dua riang yang gumpil
Ia memaki dengan murka racun yang ia reka dan cipta
sementara sebelah darinya menginginkan kepulangan, membenci hingga muak sampai mendekati gila, menertawakan segala kebodohan, kehilafan untuk pernah jatuh hati, menyesalkan magis yang hadir naluriah untuk tiap jumpa. Ia pernah mengirimkan semua kata dalam tulisan— dari mulai nota sebaris hingga doa yang berbait. dan aesrol debu pernah membasahi pipinya, karena asap dan abu dari benda-benda yang pernah terhanguskan— bukti bahwa ia pernah tergila-gila— kini semua tak berterbangan masuk lagi ke matanya.
Lalu, ia mengulanginya dengan keras seakan-akan tanah genting yang kosong itu mendengar tegas,
"Nona, kau hanya bermahkota perak, kau bukan rasul.
Dan aku bukanlah mereka: penyembah berhala. aku tak akan mengemis. aku tetap disini —tak akan pergi."
(rinzsu)
Wednesday, August 19, 2015