la fin:to love


♡ ♡ ♡

i forgive myself for all your soft



3:25 AM permalink

Bintang yang hilang.


"Karena bumi tak selalu memberi arti, begitu juga dengan langit, untuk siang tanpa malam
Kemari, kasih. Menari di bawah butiran ilusi."

Hening mengepung Lebrei Monroe
tersisa seongok kidung angin membelai sang rimbun
sesekali bergoyang, seolah terbuai lembutnya sang semilir
juga menyelimuti asa yang terpatri, merayu sang penjaga tuk lelapkan rasa
Deru angin kembali membelit tubuh saat siang tak lagi berniat singgah
diantara doa dan nyanyian itu
derak dayung-dayung gondola mematahkan sunyinya.


"Kemarau nampaknya membawamu pergi,"
ucap Jade berulang pada cerminan gejolak berisi irama menghentak tanah.
meniupkan debu kosmik
pencipta debula di ruang semesta
Elegi itu pun sempat terdengar sayup-sayup seiring tumpahan bulir di atas sana.
partikel itu kian bertemu di bulan Juni,
menggumpal, dan menggelayut perkasa di atap langit. 
kepakatannya menutupi temaram sang pagi namun dengan nuansa kesyahduan, 
sementara dingin mulai menyelimuti kolong langit.

"Aku tak meminta gemerlap bintang di rasi Auriga, 
Bintangku yang hilang, acuhkanlah sinarmu untuk pulang."


Sebulan berlalu
di sabtu pagi itu
ditemuinya musim yang mengeras tua
Ia membuka pintu mendengar tapak kaki dewa-dewa
dan para imigran-imigran Habsi yang sibuk bernyanyi pada nada mati,

"Kami ingin malam yang sama,
gemuruh air terlalu ramah merangkuh pilu, kami ingin datangkan sejuk dari perahu-perahu yang berlumut kering."

Cuaca saat itu masih gelap
di ujung bait itu mulai nampak sebuah titik
yang kemudian runtuh, setelah ia berhitung hingga sepuluh.
Hujan masih terambang di langit, menyatuh degan gemuruh.
"Coba dengar," kata mereka lagi,

"Kau masih meneduhkan tubuhmu dari sayup-sayup butiran itu? 
kudengar, kau mendengar lirih amarah yang terus memaki di ranting pohon."
Ia menyukai suara-suara gaduh mengajukan tanya dan beberapa sindiran bodoh dalam kata,
tapi pada tiap reruntukan hujan yang sama, ia tak akan menjawab mereka.


Beberapa hari setelah itu,
ia menikmati malam yang kian sama
menari melintasi cermin-cermin tanah seolah bagian terakhir Ritus Musim
mengenakan gaun putih dan tapak kaki yang bertelanjang.

Setiap malam, ada jalan batu dan lampu sebuah kota yang tak diingat lagi,
dari para jalang yang menghamburkan sampah pada tetepian seberang
dan Jade mencoba mengingatnya lagi —dari cinta yang pendek,
yang terburu, yang gagal.

"Di mana lentera kota ini?
Siapa yang meletakkan tubuh mereka jauh berada di ruang khayal?"


Di malam itu, Raja Norodom membawa sang bisu ke istana
memainkan suara piano yang berdecit, ia mencoba menulis,

"Terlalu gelap, yang akan datang hanya hujan, 
Hanya hujan."

Akan ada angkasa yang terus membisikan pesan hampa
merengkuh semakin dalam,
terus merindu sinar gemintang yang mengantung mendamaikan jiwa gulana
"Mungkin," katanya "Pupus sinar bintangmu telah digantikan oleh titik-titik air yang marah."

Diantara tiang tujuh bendara dan pucuk pucat
tersaksi bibir penduduk itu tersulam
tangan mereka terkaku
aksara terlalu kabur, berlarian ke segala arah

"Seseorang akan bebas, dan surga itu akan tiada," gunggamnya.


Seperempat jam kemudian, tuts hitam pada piano itu menganga,
dan pada tiap lorong Kapai-Kapai, abu pekat itu tak hilang
hanya cahaya yang telah lama mati.



"Melankoli bodoh, ia tak akan menemukan bintangnya yang hilang.
lagi pula, langit itu telah menyurut."
Mereka tertawa, "Kau tahu, barangkali besok, ia akan ke Mandalay, menangisi tandan ditebing jalan."



(rinzsu)

Thursday, June 11, 2015

find me: ( twitter, instagram, steam, youtube, tiktok ). la fin:to love