Nyanyian laut.
Alunan dalam ayunan gelombang, berputar dalam hembusan angin
lipat gulung sang ombak hempaskan jiwa perempuan itu ke batu karang
untuk pengembaraan mencari sandaran
dalam sunyi yang tak terbatas dalam dera senja yang melintas.
"Lelaki Arauco, nyanyianku kini telah tenggelam."
Tapakan kaki itu kian dalam lempung pohon damar mengeret ke dalam kisah sang samar
dari bisikan riuh hutan ia patahkan puluhan ranting yang berlumur tangisan hujan
dari keheningan dan sunyi, ia menciptakan rahasia yang kian disembunyikan bumi
oleh daun yang basah menari di tanah yang hampar.
Dibangunkan oleh hutan yang mati, bermuara ke tepi laut yang sepi
berkidung dibawah anyelir dan pendayung kapal-kapal itu dikejauhan ini
bercerita tentang secercah cahaya yang bermandikan kilau mimpi.
Kemudian perempuan itu menari dibawah langit yang terseduh
kian menjerit pada tiap partikel yang berjatuh
tentang harum yang mengembara
dari tanah oleh sosok lelaki yang pernah menatap pada langit yang sama.
Dari Quinchamalf dimana mata itu bermula
hingga Frontera dimana takdir yang mulai menyapa
Hanya akan ada ombak yang pecah di bebatuan yang gundah
dari lingkaran laut menyusut menjadi kumpulan pucuk
sementara lebat mengikis harapan yang kian terajut.
Dari magnolia gemilang bermekar dalam putih sang buih
Ia selalu meyakini pada kisah yang berulang
Datanglah padanya, seolah kau membiarkan semua melepas.
Lelaki Arauco, bukankah kau dan perempuan itu telah mengesahkan kesunyiaan?
Sementara takdir kian mempermainkan
dan ombak menghancurkan menara-menara itu ketepian.
Matahari elok bersembunyi di balik batas cakrawala
masih terbaring sebuah biduk pengingat masa lalu
Kemudian ia mulai berbincang pada teluk
"Akankah takdir meninggalkan kisah?,
Seperti laut yang tenang tiada beriak. Dari kata yang bahkan belum lahir. Kutanya lagi, lelaki Arauco, akankah takdir meninggalkan kita?"
(rinzsu)
Tuesday, April 7, 2015