la fin:to love


♡ ♡ ♡

i forgive myself for all your soft



5:11 AM permalink

Gadis jendela.


Dari jendela ini
(Maret 2015, dan ruangan itu lembab
Dan jendela itu rabun)

Ia merasa siluet pohon bernyanyi seusai perginya terik sang mentari
Daun-daun menyapa tanah karena ulah riuh sang angin mengikuti para jiwa yang ingin memungut kasih hujan siang ini.

"Aku selalu berkhayal tentang tempat yang jauh
lalu diriku yang menyatu dengan selat
membangun istana pasir
dalam kekosongan nebula."

Itu yang kemudian ia tulis
maka ditutupnya daun jendela dan ia kembali duduk di meja
menyelam dalam laut pemikiran,
dengan abstrak warna itu lagi

Helai sayap-sayap basah pada onggokan kota tua
menanti asa kepada sebuah pertemuan.

Dirambahnya ladang-ladang luka yang purba— berharap meneduhkan jiwa ditiap cabang yang duka
Gadis musafir malang yang pernah mengistirahkan pengembaraan di suatu negeri angin dirahim bumi.


Di kota kertas yang pudar
gadis itu kian mencoret matahari sajak yang enggan menadah hujan dari partikel aksara di langit yang menikung tanpa hujung
membiarkan kata hanyut dalam sungai langsa jiwa yang terkukung

Pincang langkah kaki bersama potret sang senja berdiri dibelakang jendela yang fana
Tanah padang-padang yang tengadah, dimana tangan hati itu terulur— pula yang menggasing kincir sunyi ketika gelap mengerdip— di ujung benua mencecah pelangi

Tidakkah sapa pun lahir kembali pada gadis dibalik jendela
ketika sajak bisu abadi
dalam kristal kata
dalam jiwanya?

Ia mencari rasa yang bahkan samar disebrang sana
tapi awan begitu pekat dan gerimis mulai menyembunyikan hasrat keingintahuannya

(daun kering yang berjatuhan pernah mengatakan itu di terik siang hari)


"Kini aku mengerti: layaknya malam Rusia menyembunyikan sebuah kota.
tiap pendarat tak akan mengenali letak dangau
jejak ketam sang pasir— dari batang rambai yang terakhir
Dimana sisa rintik hujan itu disamarkan
bukankah sekali kau mengendap ke sebuah rasa, akan sulit untukmu menerki jalan ke arah yang kan terbawa?"

Jendela itu masih membentangkan jalan yang penuh tipu daya, dari pucuk-pucuk cemara hijau yang bersahaja, pula sang camar yang tak henti mengajukan pertanyaan muskil kepada tanah yang basah.
Di balik sana dan sosok yang masih menanti sunyi berhenti mengapai kisah— layaknya kupu-kupu yang kehilangan sayap kanan dalam gerimis senja, mencari keteduhan di tiap ranting penuh gelisah.
Dinding-dinding yang kian pekat menyelimuti rasa dalam bisu kata— hingga tiap malam ia hanya menjelma menjadi langit yang tak memejamkan mata.

"Kau,
gadis jendela
bukankah lebih baik lupa?" Mereka selalu menanyakan hal yang sama.
"Jangan kau kutip cintamu yang semu lagi!"

Di beranda ruangan ini
(Pukul 09:45
percakapan yang berulang)
Diantara mungil pohon-pohon ketapang, yang selalu memberi peluk kehangatan
"Bukankah perasaan itu yang pertama kali menjemputku menyendiri dibalik jendela ini?", rangkaian kata itu berhamburan keseluruh tanya.


"Dia akan pergi,
dan kau akan sendiri."

Disana: di balik tirai jendela ruangan
(30 hitungan hari akan datang,
dia akan sendiri menanti)


"Sementara berbisik untuk lebih lama tinggal
pada negeri jendela yang kau ciptakan
Aku ingin lebih mengenal debu yang melambaikan nestapa— bunga kertas dan lintasan angka-angla
pula dirimu— yang menemukanku berdiri dalam terik siang hari— di jendela ini.
Saat pertama kali tatapan itu mengajak perihku untuk berlari,
Aku akan tetap selamanya disini— bersama jendela dan kenangan yang terberi."


Disini,
di balik tirai jendela ruangan
hanya ada suara desau sang angin
menyerbakkan aroma duka.

Ia tak menuju mejanya
ia tetap diam disini,
di balik jendela ini.

"Dalam sajak gulita aku menemukan muka-muka menua
merekalah waktu-waktu penantian pada kisah yang menggiring lara."

Ia tak kunjung duduk
menghadap ke langit dibalik tirai hijau ini
layaknya patung Jan Pieterzoon Coen— sang pengintai di menara benteng— menanti di dekat biru sang langit.

Mungkinkah kau tahu,
ia sendiri yang mengucap semua kata di balik jendela itu?


(rinzsu)

Wednesday, March 25, 2015

find me: ( twitter, instagram, steam, youtube, tiktok ). la fin:to love