Di titik debu.
(I)
Sore itu ia coba tirukan
dengan bunyi senar gitar, semberut tangis yang saling bertemu
Kemudian, hanya lara yang membunuh denyut aorta
melumurkan isak pada desak angin yang menganyun pelan
melebur bersama doa yang ia rapalkan hingga menciptakan ornamen di larik sajak.
Yang ia dengar,
langit murka, memaki lagu yang akan ia suguhkan
Tak seorangpun tahu namanya,
sesosok epik yang tak sekedar bercerita tentang perjumpaan
yang menjadi taksim sebuah kisah tanpa kebahagiaan.
Angin yang datang tiba-tiba telah menjadi badai,
daun-daun kuyup sekarang mulai menginginkan terik
kini gemuruh di luar jendela seakan terus mengundang murka
bertikau dengan malam yang kelam, tanpa permisi hujan mulai mengantar badai.
Jika gadis Ukraine itu sering mengunjungi bayangmu dalam hujan dibulan Juni,
maka ia justru akan datang dalam terik ketika matahari beranjak beberapa penggal dalam lara.
"Akan kunyanyikan harapan, hanya jika kau bolehkan."
"Kau selalu menyerukan hal yang sama." —dengar, para burung menguntai tanya.
ia tertunduk di pangkuan malam
menolak rayu terik untuk menarik buhul janji yang tekrikrar.
ia mengangguk, "Sebenarnya, aku juga tak ingin lagu itu."
Sesaat matahari meredup,
dan malam kian siap menggantikan
alunan masih menghiasi malam yang kelam,
dengan suara bintang yang melantunkan irama mozaik dengan pelan.
Di permukaan telaga, di utara,
dua orang itu kian mengayuh jukung yang tipis, dibawakannya dayung yang miris
ombak yang kian menari, membawa mereka bertepi.
"Semesta memang membenci kita." katanya "Ketidakadilan apa lagi yang harus dipertontonkan hingga mengundang murka yang begitu megah?"
tanyanya menjuntai merayu malam, tentang hati yang kembali memburam
silang pendapat yang kini berhamburan,
tentang biduk canda yang cemar basa-basi kian menghilang.
Di beranda ini ia saksikan langit yang terlepas,
hanya ada ruang yang menunggu fajar
Ia menagkup segores rubaiyat mendaras malam di barat kota,
demi sekeping cerita rindu dari rintik basah gerimis.
Ia tak tahu kemana harus mencari surga yang dulu sempat tercipta hanya dengan bercerita dan tawa
Sekarang ia hanya menaruh rindu dengan harmoni yang membuka cakrawala.
Seruan yang lindap ketika malam terbit, terkadang menunjukan sudut tak ramah
luruh pada sang pagi, saat ia tak lagi berjuang sendiri.
(II)
Pohon-pohon itu berbagi dingin diluar jendela.
Febuari, beberapa tahun silam.
Kau berkata, "Pergilah sebelum malam tiba,
kudengar angin mendesak ke arah kita."
Tapi ia sedang bermimpi, merapikan busut-busut terigu seperti hujan yang menggerutu
Di sebuah ladang, enam orang berlari seakan takut mati akan matahari.
namun lagi, kau tetap berkata,
"Aku ingin dengar darimu, tentang Antares yang berada di rasi Scorpio."
Kemudian gadis itu bercerita tentang jarak khayal horizon yang berbanding lurus dengan semesta,
untuk jalan yang terbentang diantara garis linear dan siklus, —kau,
yang memilih jalan bersisian sebagai dua garis horizontal yang di tarik lurus beriringan.
Kini saat yang rumit hadir jerat-jerat ego yang menyebar
tentang buhul janji menuju titik ujung yang tak lagi bertemuan.
"Apapun yang kuceritakan. Apapun yang kuceritakan padamu, semua telah lama mati."
(III)
Bingkai-bingkai masih untuk malam yang selalu bertikai,
yang melepuh di ujung jalan panjang,
Ia masih terdiam, memapah rintih yang tak henti
Dan coreng moreng wajah gelisah itu mulai ditimpa sang malam
meluruh,
namun menanti juga tak akan menghentikan lara.
pada kalender itu pun diam,
terhenti oleh waktu kelamdibawah daun-daun merah, tinggal sunyi yang menyekat air mata
"Aku kehilangan sosok dulu yang pernah menyemai cerita, bukan hanya aksara dan derita."
(IV)
Ia biarkan semua berlalu seperti angin,
yang menyapa saat malam tanpa sebutir bintang atau secercah cahaya.
Beberapa jam menuju lonceng kembara berdentang, ia masih menunggu di ufuk pagi
agar fajar segera tiba bersama tembikar kesepian menggelar tawa riuh juga partikel aesrol yang berterbangan mengayun pelan.
Ia ingin mencari bahagia yang tak kunjung ia raih,
meski hanya di titik debu
yang melambai pergi.
(rinzsu)
Wednesday, September 25, 2013