la fin:to love


♡ ♡ ♡

i forgive myself for all your soft



9:36 AM permalink

Kota tanpa matahari.


(12-02)

"Gelap, gelap," seseorang mulai bernyanyi di ujung sudut yang sunyi.

Perbatasan kota,
yang disinari tanpa matahari,
hanya air mata yang menjadi lentera paling benderang di sudut malam.


"Gelap, gelap." ia terus bercakap pada waktu,
dingin itupun menghajarnya pilu
namun kota itu masih tak membuka pintu.

Reruntuhan rumah tertinggal piung berbeban kenang
tertinggal udara yang mengambang dengan geosmin menyibakan aroma petrichor membasahi tiap jendela.
Tiap atap-atap itu mencoba meraih gedung yang dulu utuh
berteriak,
berseru,
menyebutkan nama mereka di sepanjang Jalan 108 lalu.

Percikan kehadiran sempat senantiasa tanpa lenguh menyoroti kelam sang kota,
kini yang ia tinggalkan hanya nestapa
Kota pun terbelah besi
trem teredam
dalam kabut senja.

Di kota ini,
cemara pun gugur daun, dan kembali
ombak-ombak itu hancur berbatun.
Sulit untuk memanggil penduduk itu, ketika yang diinginkan hanyalah menutup rapat pintu
Di kota ini,
kemarau pun menghembus bumi
menghembus pasir, dingin dan malam hari
dan ilalang yang merekah disepasang bukit yang meruncing merah
Di kota ini,
hanya akan kau temui gadis itu
"Gelap, gelap." memaki dan bernyanyi.
berbisik,
"Dapatkah kau bawa matahari itu pulang, kemari?"


Taman kota itu berisi pepohonan
yang setia memeluk siapapun yang berteduh dirindangnya
"Dulu," ucap gadis itu "mendung sempat tak pernah singgah, karena sinaran matahari selalu menghangatkan perasaan setiap yang berada dibawah titik kota yang tengah merindu."

Dari sini pula,
tanah-tanah itu mengadah
dengan padang-padang yang terkukur
dimana tangan hati itu pernah terulur —kini hanya tertinggal kincir yang menggasing sunyi.
Sekarang tak ada lagi cahaya sebelum senja beranjak pulang.
Kota ini,
sekarang telah runtuh seiring dengan perasaan yang hilang termakan waktu.
Sementara sang gadis masih mengumpulkan bongkahan-bongkahan dalam kota itu,
mencari sinar yang dapat mengantikan matahari yang dulu sempat menghapus pilu.


"Gelap, gelap,
Kota yang kini usang. Gelap, gelap. Barangkali ia menitipkan matahari ke jejak badai kelam."


Ketika senja mengerlip, dan di ujung benua
mencecah pelangi
Tidakkah sapa pun terlahir kembali untuk kota ini?
Ketika bangkit bumi
Ia tahu, sajak bisu itu akan tetap abadi.

"Ia memintaku untuk menunggu, menunggunya membangun kota yang sempat dulu indah, ia pernah berjanji. Aku tak akan kemanapun. Tidak, ia memintaku menunggu. Aku tak akan kemanapun."


(02-11)

Sementara di Serenety.
Dari pinggir sungai yang rapat,
antara lumut lebat
dan tubir batu
ada lempang kayu yang ingin merobek
tubuh sang perampas asa,

"Engkau dewa?" Ia bertanya.
"Matahari sang gadis di kota lama?"

Laki-laki itu diam sebelum menghilang
ke sebuah asal
yang tak pernah diacuhkan:
sebuah khayal
di ujung hutan
di ornamen embun
yang setengah bersembunyi di pepohonan rimbun.



(09-23)

Setelah itu tak ada lagi kabar yang mereka dengar dari kota tanpa matahari,
Tentang sang gadis,
penghuni kota mati.




(rinzsu)

Sunday, December 7, 2014

find me: ( twitter, instagram, steam, youtube, tiktok ). la fin:to love